Jakarta, hpurchase — Modus kejahatan digital terus berkembang, dan salah satu yang paling berbahaya tahun ini adalah ai website palsu. Teknologi pembuat website berbasis kecerdasan buatan kini dimanfaatkan untuk membuat situs tiruan bank, e-commerce, dan layanan pembayaran digital. Banyak korban kehilangan akun karena percaya pada tampilan situs yang terlihat profesional.
Selain itu, kemampuan AI untuk membuat desain website secara instan membuat proses penipuan menjadi jauh lebih cepat. Pelaku cukup memasukkan perintah sederhana, dan AI langsung menghasilkan website lengkap dalam hitungan detik. Karena tampilannya hampir identik dengan situs asli, korban tidak menyadari bahwa mereka sedang berada di halaman palsu.
Menurut data awal dari BSSN, kasus pemalsuan situs berbasis AI meningkat sejak akhir 2024. Trennya terus membesar dan kini mulai merambah ke sektor pembayaran digital.
Bagaimana AI Membuat Website Palsu yang Sulit Dibedakan?
Teknologi AI generatif dapat memahami pola desain web modern. Ketika pelaku memasukkan permintaan seperti “buat halaman login mirip bank X”, AI langsung meniru:
- warna
- font
- tata letak
- tombol login
- tampilan halaman transaksi
Selain itu, AI mampu membuat halaman responsive sehingga tampilan mobile terlihat sangat asli. Banyak korban tidak mengecek alamat domain karena visual website sudah “meyakinkan”.
Laporan dari CNBC Indonesia juga menunjukkan meningkatnya kasus penipuan login yang menggunakan halaman tiruan berbasis AI.
Jenis Website yang Sering Dipalsukan
Pakar keamanan mencatat bahwa beberapa kategori situs sering menjadi target:
- Website mobile banking
- Halaman OTP dan verifikasi identitas
- Halaman promo e-commerce
- Website pengembalian dana palsu
- Form login akun marketplace
- Website dompet digital
Selain itu, pelaku mulai meniru tampilan pusat bantuan (help center) milik platform besar untuk memancing korban yang sedang mengalami masalah.
hpurchase sebelumnya pernah membahas keamanan pembayaran digital dalam artikel Tren Pembayaran QRIS, PayLater, dan Dompet Digital, yang sangat relevan dengan ancaman baru ini.
Modus Penipuan yang Menggunakan AI Website Palsu
Modus yang sering digunakan pelaku antara lain:
1. Phishing melalui WhatsApp dan SMS
Pelaku mengirim link palsu yang dibuat AI, lalu berpura-pura menjadi layanan resmi.
2. Iklan palsu di media sosial
Website palsu sering muncul sebagai landing page iklan promo.
3. Chatbot CS palsu
AI CS palsu, seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, mengarahkan korban ke website tiruan.
4. Email penipuan dengan domain mirip
AI juga membuat email dengan tata bahasa sangat rapi, sehingga terlihat profesional.
Selain itu, pelaku sering memakai domain dengan huruf mirip (misalnya bank-l0gin.com) untuk mengelabui pengguna.
Mengapa Banyak Korban Terjebak Website Palsu?
Ada beberapa faktor utama:
- Desain situs sangat meyakinkan
- Korban tidak memeriksa domain
- Situs terlihat seperti aplikasi resmi
- Pelaku menambahkan animasi dan ikon profesional
- Website memuat logo asli dalam kualitas tinggi
Selain itu, banyak pengguna mengakses link dari pesan instan tanpa kecurigaan.
Dampak Kerugian yang Muncul
Pencurian data melalui website palsu berpotensi menyebabkan:
- Kehilangan dana di rekening bank
- Pengambilalihan akun marketplace
- Pembelian ilegal menggunakan dompet digital
- Akses ke email dan akun media sosial
- Pemerasan data pribadi
Beberapa kasus menunjukkan pelaku dapat mengambil alih seluruh identitas digital korban hanya dari satu halaman login.
Cara Menghindari Serangan AI Website Palsu
Pakar keamanan menyarankan langkah berikut:
- Selalu cek domain website
- Jangan pernah klik link dari pesan acak
- Masuk ke website melalui aplikasi, bukan link
- Gunakan password manager—yang otomatis menolak domain palsu
- Aktifkan autentikasi dua faktor
- Jangan isi formulir di luar aplikasi resmi
Selain itu, pengguna perlu waspada ketika website meminta data sensitif tanpa alasan jelas.
Peran Platform Digital dalam Mengatasi AI Website Palsu
Platform e-commerce, bank, dan penyedia dompet digital perlu:
- Menggunakan AI defensif untuk mendeteksi domain palsu
- Memperketat sistem verifikasi login
- Menyediakan edukasi rutin kepada pengguna
- Menambahkan peringatan pop-up jika domain mencurigakan
- Melaporkan domain tiruan ke regulator
hpurchase juga pernah menyoroti sistem keamanan otomatis dalam artikel Google Rilis Fitur Checkout Otomatis, yang menunjukkan bahwa otomatisasi membutuhkan pengawasan ketat.
Kesimpulan
AI website palsu membuktikan bahwa teknologi AI dapat menjadi ancaman serius ketika jatuh ke tangan yang salah. Karena itu, pengguna harus lebih berhati-hati dan selalu memastikan tautan yang mereka buka berasal dari sumber resmi. Platform digital pun wajib memperketat keamanan untuk menghadapi evolusi serangan berbasis AI yang semakin canggih. Dengan kesadaran dan sistem pertahanan yang lebih baik, ancaman ini dapat ditekan sebelum menimbulkan kerugian besar.

