Ilustrasi deepfake iklan palsu yang menampilkan wajah publik figur yang direkayasa AI untuk mempromosikan produk e-commerce secara menyesatkan.
Deepfake iklan palsu mulai digunakan penipu untuk mempromosikan produk e-commerce dengan wajah artis tanpa izin.

Deepfake Iklan Palsu Serbu E-Commerce Indonesia, Wajah Artis Dipakai Tanpa Izin

0 0
Read Time:3 Minute, 32 Second

Jakarta, hpurchase — Fenomena deepfake iklan palsu mulai menyerbu platform e-commerce di Indonesia. Banyak pelaku menggunakan wajah artis, influencer, hingga tokoh publik untuk mempromosikan produk yang sebenarnya tidak pernah mereka endors. Serangan ini memicu keresahan karena video terlihat meyakinkan, padahal seluruh gerakan dan suara berasal dari kecerdasan buatan.

Selain itu, beberapa laporan dari komunitas digital menunjukkan bahwa modus ini muncul hampir di semua platform belanja populer. Pengguna yang kurang memahami teknologi sering tertipu karena video tampil sangat realistis.

Data awal dari BSSN menyebut bahwa penyalahgunaan AI dalam konten iklan meningkat pesat sejak pertengahan 2025, terutama di pasar online yang memperbolehkan penjual mengunggah video promosi.


Deepfake Mulai Menyerupai Testimoni Asli

Pelaku memakai teknologi AI generatif untuk meniru wajah dan suara figur publik. Selain itu, AI dapat merekayasa gerakan mulut agar selaras dengan kalimat yang dibacakan. Hasilnya, video terlihat seperti testimoni asli, padahal seluruh konten bersifat manipulatif.

Menurut laporan CNBC Indonesia, beberapa kasus di negara tetangga memperlihatkan peningkatan penipuan yang menggunakan deepfake untuk menjual produk ilegal atau berkualitas rendah.

Selain itu, banyak pelaku menggabungkan teknik voice cloning sehingga penonton merasa benar-benar mendengar suara asli dari artis tersebut. Modus ini semakin sulit dideteksi karena kualitas generasi video semakin halus.


Cara Kerja Deepfake Iklan Palsu di Marketplace

Pakar keamanan digital menjelaskan bahwa teknik deepfake bekerja melalui beberapa tahap:

  1. Mengambil foto atau video figur publik dari akun media sosial.
  2. Menggunakan model AI untuk menganalisis ekspresi wajah.
  3. Menciptakan video baru yang meniru gaya bicara dan sorot mata.
  4. Mengunggah video tersebut ke marketplace sebagai testimoni produk.
  5. Menargetkan korban melalui iklan yang terlihat profesional.

Selain itu, pelaku sering memakai latar belakang studio agar video terlihat resmi. Strategi ini membuat banyak pembeli percaya bahwa produk tersebut benar-benar diendors oleh publik figur.

hpurchase juga pernah membahas potensi risiko konten manipulatif dalam artikel Google Rilis Fitur Checkout Otomatis, yang menekankan pentingnya keamanan ketika teknologi semakin otomatis dan sulit dikontrol.


Jenis Produk yang Sering Dipromosikan Lewat Deepfake

Hasil pemantauan komunitas memperlihatkan bahwa deepfake paling sering dipakai untuk menjual:

  • Produk kecantikan tanpa izin BPOM
  • Obat herbal tanpa sertifikasi
  • Gimmick “penurun berat badan cepat”
  • Produk elektronik refurbish
  • Aplikasi penghasil uang yang tidak valid
  • Skema investasi bodong

Selain itu, beberapa penipu memakai wajah artis senior untuk mempromosikan produk kesehatan palsu karena target pasar mereka adalah pengguna dengan literasi digital rendah.


Mengapa Banyak Pengguna Mudah Tertipu?

Ada beberapa faktor yang membuat deepfake sangat efektif:

  • Video terlihat natural, sehingga sulit dibedakan dari konten asli
  • Pengguna percaya pada figur publik, sehingga tidak curiga
  • E-commerce memberi ruang bebas untuk upload video promosi
  • AI meniru emosi dan intonasi, membuat video lebih meyakinkan
  • Pengguna tidak memeriksa akun resmi artis sebelum membeli

Selain itu, format video pendek membuat orang menonton cepat tanpa analisis. Banyak korban langsung checkout setelah melihat video promosi tanpa membaca ulasan produk.


Dampak Deepfake ke Ekosistem E-Commerce

Kasus ini tidak hanya merugikan pembeli. Platform marketplace juga terdampak karena:

  • Reputasi toko dapat tercoreng
  • Kepercayaan publik menurun
  • Biaya penanganan komplain meningkat
  • Penjual resmi dirugikan oleh produk palsu
  • Brand mengalami kehilangan kredibilitas

Karena itu, beberapa platform e-commerce dunia mulai mengembangkan fitur deteksi deepfake otomatis berbasis AI defensif.


Cara Membedakan Iklan Deepfake dan Iklan Asli

Pakar menyarankan beberapa langkah untuk mengenali deepfake:

  • Perhatikan ketidaksinkronan bibir saat berbicara
  • Lihat kedipan mata yang bergerak tidak wajar
  • Periksa akun resmi artis apakah pernah mempromosikannya
  • Teliti review pembeli, bukan hanya video penjual
  • Hindari produk dengan klaim hasil instan
  • Gunakan fitur lapor jika curiga penipuan

Selain itu, deepfake sering memiliki pencahayaan yang tidak stabil atau ekspresi wajah yang terlalu halus.


Peran Regulator dan Platform Digital

Agar penyalahgunaan deepfake dapat ditekan, regulator dan penyedia platform perlu melakukan:

  • Verifikasi penjual lebih ketat
  • Deteksi otomatis untuk video manipulatif
  • Larangan iklan AI tanpa label
  • Edukasi kepada pembeli dan pedagang
  • Penerapan denda bagi penjual yang memakai konten palsu

Di beberapa negara, penjual wajib memberi label “AI-generated” pada konten yang tidak dibuat oleh manusia asli.


Kesimpulan

Fenomena deepfake iklan palsu di e-commerce menunjukkan bahwa teknologi AI tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga membuka ruang untuk penipuan yang semakin canggih. Pengguna harus meningkatkan kewaspadaan saat melihat video testimoni yang terlihat terlalu sempurna. Platform e-commerce juga perlu mengembangkan sistem pertahanan berbasis AI untuk mencegah penyebaran konten manipulatif.

Dengan kolaborasi antara regulator, platform, dan pengguna, ancaman deepfake dapat ditekan sebelum merugikan lebih banyak orang.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%